Sunday, February 10, 2013

Cerpen - Rapuh


Detik waktu trus berjalan
Berhias gelap dan terang
Suka dan duka
Tangis dan tawa
Tergores bagai lukisan

Rijal—pemuda berusia dua puluh tahun itu—berlari membelah gelapnya malam nan hitam. Melewati sederetan bias cahaya lampu jalan yang menembus rintik hujan bak sebuah panggung bagi sebuah adegan elegi.  Hawa dingin yang mengepung seluruh sudut kota menciptakan atmosfir membeku dan kelam. Selain derap langkah cepatnya dan desiran gemerisik hujan, yang ada hanya sunyi.
Tak perduli noda lumpur menghinggapi sebagian jeansnya, ia tetap berlari dan berlari. Dadanya bergemuruh, nafasnya tersengal, keringat teredam oleh hawa dingin dan membuatnya terjepak di bawah lapisan kulit. Sepasang mata nanar itu tetap menyiratkan keinginannya untuk tetap berlari… terus berlari… ia harus mencapai tujuannya… malam ini juga. Tak seorangpun mampu memberikan jaminan bahwa ia masih akan tetap hidup sampai esok pagi.
Sosok renta itu terbayang di pelupuk matanya. Ibunya yang telah lama menderita kanker paru-paru berbisik kepadanya beberapa menit yang lalu… “Rijal, pergilah kepada Umar… malam ini juga…” suara sang ibu terpotong oleh batuknya.
“Untuk apa, Bu?”, tanya Rijal seraya menggenggam tangan ibunya nan memucat. Keinginannya untuk menyalurkan kehangatan kepada sosok wanita itu berbuah kesia-siaan.
“Rijal… kamu sadar bahwa kau telah melepaskan keIslamanmu, Nak?” air mata pilu mengalir dari mata sang Ibu. Meski dipenuhi guratan penderitaan, wajahnya masih menampakkan sisa-sisa kecantikannya di masa lalu. Harapan itu masih ada dalam lubuk hatinya terdalam. Harapan bila ia bersemayam di alam kubur nanti, lantunan doa sang anak akan menemaninya dan merubah kegelapan liang lahat menjadi ruangan nyaman penuh cahaya. “Umar adalah Murobi mu… nyatakan kembali keIslamanmu di hadapannya, Nak…”
Sorot mata wanita yang telah melahirkannya itu membuat Rijal tak mampu mencari alasan yang tepat, mengapa ia sampai pernah tega menyiksa dirinya dengan minuman haram, meninggalkan sholat… Ya Robbi… bahkan pertemuan terakhir dengan Ibunya waktu itu adalah setelah dengan kasarnya ia mengatakan tak ingin lagi diatur oleh yang namanya Qur’an, Islam dan sebagainya…
Benaknya menggali kenangan hitam itu, ketika suatu malam ia baru pulang dari kantor dan sang Ibu menanyakan apakah ia sudah sholat Isya. “Bu, di tempatku bekerja, sholat itu dianggap mengganggu waktu kerja dan hanya akan merugikan perusahaan!!!” katanya waktu itu.
Sang Ibu tercekat. Jantungnya berdebar kencang demi mendengar perkataan Rijal. “Astagfirulloh… Rijal, tiga tahun kau sekolah di Australia dan…”
“Terus kenapa, Bu?” jawab Rijal dengan kasar. Matanya sedikit merah. Bau alkohol menerpa indra penciuman sang Ibu.
“Kamu mabuk, Nak?” tanya sang Ibu. Berharap sang buah hati menjawab ‘tidak’.
Namun ia keliru. Sang anak justru menyeringai kepadanya. “Hehehe, nggak, Bu. Segini sih, belum apa-apa…”
Cairan bening meleleh dari kedua mata sang Ibu yang hancur hatinya. Buah hati satu-satunya yang diharapkan kelak menjadi gantungannya di akhirat kelak, telah meracuni tubuhnya dengan barang haram. Ia merasa tak lagi memiliki hujjah di hadapan Alloh dalam mengharap rahmatNya di akhirat.
“Kamu… mabuk, nak…?” tanyanya kembali dengan suara lirih. Air mata tak lagi terbendung, menganak sungai di pipinya.
“Lalu kenapa, Bu? Bapak sudah ‘gak ada, sudah mati!!! Gak ada yang bakalan ngomelin Rijal kayak dulu, khan?”
Ibarat gelas kristal yang meluncur turun dari atas bukit, jatuh menerjang cadas keras di dasarnya. Hati sang Ibu hancur berkeping-keping. Musnah sudah harapannya terhadap satu-satunya buah hati. Apalagi yang akan dibanggakannya di hadapan Alloh kelak? Membimbing seorang anakpun ia tak mampu. Apa ia harus menyalahkan Alloh yang telah memanggil suaminya lebih dahulu sehingga Rijal tak memiliki panutan seorang ayah sejak ia berusia delapan tahun? Tak mungkin… ini fitnah!!! Anaknya telah menjadi fitnah!!! “Pergi kamu, Nak…” katanya diiringi kehancuran tak terperi merajam kalbunya.
Rijal mendelik sesaat. Ditatapnya wajah sang ibu yang seakan telah menjadi wanita paling menderita sedunia. “Ha? Ibu bilang apa?”
“Pergi kamu!!!” suara ibu terdengar lantang. “Kalau kamu lebih memilih pekerjaanmu daripada Alloh, pergi dari rumah ini… kalau kamu lebih memilih pergaulan bebasmu daripada aturan Alloh, pergi dari rumah ini…”
“Cuih! Ok!” Rijal mengangguk-angguk dengan tatapan sombong, menusuk nurani wanita yang telah melahirkannya. “Rijal ‘gak pernah mengharap warisan atau secuil hartapun dari warisan Bapak. Rijal pergi, Bu.”
Dengan terseok-seok menggelayut pada kesadarannya yang teracuni, ia menghampiri pintu depan dan membukanya. Sebelum menghilang di balik sosok pintu kayu yang tampak telah lama di makan usia, Rijal meninggalkan pernyataan terakhir di hadapan ibunya, “Bu, sebenarnya Rijal sudah lama ‘gak sholat. Rijal sudah pindah agama sejak dua minggu yang lalu. Agama yang ‘gak pernah nyuruh umatnya untuk nunggang-nungging di depan Tuhannya sehari lima kali. Ngabisin waktu. Ngabisin tenaga. Dan sampai hari ini ibu tetap saja menjadi seorang janda yang miskin!!!” Brak!!! Pintu dibanting, menggetarkan dinding di sekitarnya. Tak lama terdengar deru sepeda motor yang semakin menjauh. Rijal pergi dari rumah. Meninggalkan sosok renta bersama serpihan hatinya.
Itulah kejadian setahun yang lalu. Malam ini, Rijal terus berlari dan berlari. Menara Masjid Al-Fitroh telah tampak dari balik rerimbunan rumah yang berderet merapat. Curahan hujan menyamarkan cahaya lampu berwana kuning pucat di puncaknya. “Sedikit lagi… “ ia terus berlari membelah tirai hujan.
Dari balik sekumpulan awan hitam yang menggantung, bulan sabit mengiringi langkah Rijal demi mencapai tujuannya.

Seribu mimpi
Berjuta sepi
Hadir bagai teman sejati
Di antara lelahnya jiwa
Dalam resah
Dan air mata
Kupersembahkan kepadaMu
Yang terindah dalam hidupku

Gerak larinya melambat ketika sekitar sepuluh meter dihadapannya nampak siluet tiga sosok yang dikenalnya. Anwar, Henry, Dudi. Ketiganya berdiri kokoh dibawah terpaan hujan yang mengguyur.
Rijal menghentikan langkahnya. Saat itu, ia baru merasakan ternyata hantaman hujan cukup membuat kepalanya berdenyut-denyut. Mata nanarnya menatap wajah ketiga sosok itu. Namun fokusnya kembali menuntun pandangannnya ke arah menara Masjid Al-Fitroh. Umar ada di sana. Murobinya. Gurunya. Sahabatnya…
“Mau kemana, Jal?” tanya Dudi. Meski tangan kanannya disembunyikan di balik punggungnya, Rijal dapat menerka benda apa yang tersebunyi di sana.
Rijal mendengus. Tirai hujan ini sedikit menghalangi pandangannya. Tiga orang ini adalah tukang pukul dari bosnya—Pak Sutoro, sosok gagah, pemilik delapan perusahaan besar di Jakarta. Ia yang telah menemukannya di Australia, di tengah-tengah mahasiswa yang kebingungan ke mana harus mencari kerja setelah lulus. Membawa alasan nasionalisme, Sutoro yang tengah mengurus bisnis di negri kangguru itu menawarinya sebuah jabatan empuk… yang dengan rela ia tukar dengan akidahnya.
Tiga hari lalu, sejak pamannya memberitahu berita semakin parahnya penyakit sang Ibu, Sutoro menduga ada yang tidak beres pada diri Rijal.
Bagaimanapun Rijal yang sempat mengecap tarbiyah melalui Umar, masih memiliki setitik rasa iba terhadap kondisi wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya. Segala kenangan indah bersama kasih sayang Alloh yang terpancar melalui sosok Ibunya telah menghancurkan semua kesenangannya dalam atmosfir duniawi yang diberikan Sutoro. Ia ingin kembali kepada Ibunya.
Menganggap Sutoro adalah orang yang profesional, Rijal menceritakan perihal penyakit ibunya dan keinginan wanita itu agar Rijal kembali memeluk Islam. Perdebatan kecil terjadi di ruangan super-lux itu. Sutoro membelakanginya, memandang jendela dengan wajah masam ketika Rijal menyatakan pengunduran dirinya—dengan resiko ia kehilangan semua fasiltas yang diberikan oleh Sutoro berupa rumah, kendaraan, gaji besar dan pangkat.
Hari ini, ketika Rijal membulatkan tekadnya untuk menjumpai sang Ibu dan memenuhi harapan terakhirnya, kebencian Sutoro membayanginya dalam bentuk tiga sosok kekar yang siap mencabik-cabiknya.
“Aku bukan lagi karyawan Pak Sutoro,” kata Rijal datar.
“Kau belum jawab pertanyaan Dudi!” bentak Anwar. “Kau mau ke Masjid, ha?”
Rijal tak menjawab. Rahangnya mengeras. Dari mana mereka tahu tujuannya? “Kalian mau apa? Mencegah aku ke sana? Agama kalian tak akan rugi kehilangan satu pengikutnya, khan?”
“Kurang aja, kau!!!” senjata itu menampakkan dirinya. Sebatang besi bulat berdiameter tiga centimeter muncul dari balik punggung Dudi. Dengan gerakan yang sangat cepat, benda itu membelah hujan dan menghujam ke arah kepala Rijal.
Dengan menyilangkan kedua tangannya, Rijal menangkis serangan itu. Rasa ngilu yang hebat menjalar hingga ke pangkal lengannya. Trak!!!
“Dasar tak tahu terima kasih!!!” bentak Dudi kesal. Hidung mereka saling bertemu bersama sorot mata yang menyiratkan satu kondisi yang akan diterima dari dua pilihan: Membunuh atau terbunuh. “Brengsek kau, Jal!!!”
Duak!!! Kaki kanan Rijal mengayun deras, menghantam perut Dudi dengan keras. Pria tinggi besar itu terjungkal ke belakang, mengerang kesakitan seraya memegang purutnya yang terhantam.
Anwar dan Henry tak tinggal diam, mereka mengeluarkan senjatanya. Masing-masing memegang sebilah samurai. Berlari. Menerjang Rijal yang masih berdiri dengan tangan kosongnya. Satu dari dua pilihan itu kembali mengintainya…

Meski kurapuh
Dalam langkah
Kadang tak setia kepadaMu
Namun cinta dalam jiwa
Hanyalah padaMu

Pukul 22.00… hujan masih tak kunjung berhenti. Di dalam Masjid, Umar masih bercengkrama dengan beberapa ikhwan. Usai sholat Isya tadi mereka sempat berdiskusi hangat. Wajah mereka cerah, menyiratkan keimanan yang menggelora. Pemuda berusia dua puluhan itu terlihat lebih dewasa dari teman-teman seusianya. Cara bicaranya memikat namun tak mengesankan kesombongan.
Kepada laki-laki inilah Rijal sempat ‘berguru’ dan mulai mengerti makna Islam yang sesungguhnya. Bukan hanya sekedar sholat, puasa atau zakat. Tetapi Islam adalah sebuah dien yang mengatur seluruh sisi kehidupan manusia. Seluruhnya…
Kepergiannya dalam rangka menikmati beasiswa pendidikan ke Australia telah memisahkan Rijal dari sosok Umar. Dirinya ternyata masih lemah, sarat dengan dahan-dahan kering nan goyah. Rapuh. Keimanannya belum mampu bertahan menghadapi derasnya terjangan budaya yang sarat dengan nilai-nilai kebebasan dan tidak mengenal keterikatan pada nilai-nilai akidah yang membuahkan cinta dari Sang Maha Pencipta.

Tertatih… menyeret kaki kanannya yang penuh luka. Warna merah menjadi jejak di belakangnya, bercampur dengan air hujan yang menggenangi jalan di depan Masjid. Bibirnya yang sobek menciptakan sebuah senyuman penuh kemenangan. Tujuannya tepat ada di depan matanya. Sedikit lagi.
Dengan tangan bergetar, digenggamnya tiang pintu pagar Masjid. Ini adalah gerbang kembalinya dari kemaksiatan menuju benderangnya cahaya Islam. Kerinduan itu telah mampu membawanya sampai kesini—dengan sebuah resiko yang paling dihindari oleh sebagian besar manusia yang terjebak oleh kenikmatan dunia: Kematian.
Nafasnya memendek. Cairan merah itu sarat mewarnai hampir seluruh pakaiannya yang masih terguyur hujan. Dengan sisa tenaga, ia berusaha mengunci jemarinya pada besi bulat itu… namun itu adalah kekuatan terakhirnya. Kehilangan banyak darah dalam pertempuran tadi membuatnya tak mampu bertahan lebih lama lagi. Sebelum genggaman jemarinya meluncur turun dari pintu pagar dan tubuhnya ambruk menghantam aspal jalan yang dingin, sudut bibirnya yang pecah hanya mampu menyebut satu nama yang sempat hilang dari hidupnya “… Alloh…”

Maafkanlah bila hati
Tak sempurna mencintaiMu
Dalam dada
Kuharap hanya diriMu yang bertahta

Detik waktu trus berlalu… semua berakhir padaMu


Rapuh; by Opick

15 Feb 2008

No comments:

Post a Comment