Detik waktu trus berjalan
Berhias gelap dan terang
Suka dan duka
Tangis dan tawa
Tergores bagai lukisan
Rijal—pemuda berusia dua puluh tahun itu—berlari membelah gelapnya malam
nan hitam. Melewati sederetan bias cahaya lampu jalan yang menembus rintik
hujan bak sebuah panggung bagi sebuah adegan elegi. Hawa dingin yang mengepung seluruh sudut kota
menciptakan atmosfir membeku dan kelam. Selain derap langkah cepatnya dan
desiran gemerisik hujan, yang ada hanya sunyi.
Tak perduli noda lumpur menghinggapi sebagian jeansnya, ia tetap berlari
dan berlari. Dadanya bergemuruh, nafasnya tersengal, keringat teredam oleh hawa
dingin dan membuatnya terjepak di bawah lapisan kulit. Sepasang mata nanar itu
tetap menyiratkan keinginannya untuk tetap berlari… terus berlari… ia harus
mencapai tujuannya… malam ini juga. Tak seorangpun mampu memberikan jaminan
bahwa ia masih akan tetap hidup sampai esok pagi.
Sosok renta itu terbayang di pelupuk matanya. Ibunya yang telah lama
menderita kanker paru-paru berbisik kepadanya beberapa menit yang lalu… “Rijal,
pergilah kepada Umar… malam ini juga…” suara sang ibu terpotong oleh batuknya.
“Untuk apa, Bu?”, tanya Rijal seraya menggenggam tangan ibunya nan
memucat. Keinginannya untuk menyalurkan kehangatan kepada sosok wanita itu
berbuah kesia-siaan.
“Rijal… kamu sadar bahwa kau telah melepaskan keIslamanmu, Nak?” air mata
pilu mengalir dari mata sang Ibu. Meski dipenuhi guratan penderitaan, wajahnya
masih menampakkan sisa-sisa kecantikannya di masa lalu. Harapan itu masih ada
dalam lubuk hatinya terdalam. Harapan bila ia bersemayam di alam kubur nanti,
lantunan doa sang anak akan menemaninya dan merubah kegelapan liang lahat
menjadi ruangan nyaman penuh cahaya. “Umar adalah Murobi mu… nyatakan kembali
keIslamanmu di hadapannya, Nak…”
Sorot mata wanita yang telah melahirkannya itu membuat Rijal tak mampu
mencari alasan yang tepat, mengapa ia sampai pernah tega menyiksa dirinya
dengan minuman haram, meninggalkan sholat… Ya Robbi… bahkan pertemuan terakhir
dengan Ibunya waktu itu adalah setelah dengan kasarnya ia mengatakan tak ingin
lagi diatur oleh yang namanya Qur’an, Islam dan sebagainya…
Benaknya menggali kenangan hitam itu, ketika suatu malam ia baru pulang
dari kantor dan sang Ibu menanyakan apakah ia sudah sholat Isya. “Bu, di
tempatku bekerja, sholat itu dianggap mengganggu waktu kerja dan hanya akan
merugikan perusahaan!!!” katanya waktu itu.
Sang Ibu tercekat. Jantungnya berdebar kencang demi mendengar perkataan
Rijal. “Astagfirulloh… Rijal, tiga tahun kau sekolah di Australia dan…”
“Terus kenapa, Bu?” jawab Rijal dengan kasar. Matanya sedikit merah. Bau
alkohol menerpa indra penciuman sang Ibu.
“Kamu mabuk, Nak?” tanya sang Ibu. Berharap sang buah hati menjawab
‘tidak’.
Namun ia keliru. Sang anak justru menyeringai kepadanya. “Hehehe, nggak,
Bu. Segini sih, belum apa-apa…”
Cairan bening meleleh dari kedua mata sang Ibu yang hancur hatinya. Buah
hati satu-satunya yang diharapkan kelak menjadi gantungannya di akhirat kelak,
telah meracuni tubuhnya dengan barang haram. Ia merasa tak lagi memiliki hujjah
di hadapan Alloh dalam mengharap rahmatNya di akhirat.
“Kamu… mabuk, nak…?” tanyanya kembali dengan suara lirih. Air mata tak
lagi terbendung, menganak sungai di pipinya.
“Lalu kenapa, Bu? Bapak sudah ‘gak ada, sudah mati!!! Gak ada yang
bakalan ngomelin Rijal kayak dulu, khan?”
Ibarat gelas kristal yang meluncur turun dari atas bukit, jatuh menerjang
cadas keras di dasarnya. Hati sang Ibu hancur berkeping-keping. Musnah sudah
harapannya terhadap satu-satunya buah hati. Apalagi yang akan dibanggakannya di
hadapan Alloh kelak? Membimbing seorang anakpun ia tak mampu. Apa ia harus
menyalahkan Alloh yang telah memanggil suaminya lebih dahulu sehingga Rijal tak
memiliki panutan seorang ayah sejak ia berusia delapan tahun? Tak mungkin… ini
fitnah!!! Anaknya telah menjadi fitnah!!! “Pergi kamu, Nak…” katanya diiringi
kehancuran tak terperi merajam kalbunya.
Rijal mendelik sesaat. Ditatapnya wajah sang ibu yang seakan telah
menjadi wanita paling menderita sedunia. “Ha? Ibu bilang apa?”
“Pergi kamu!!!” suara ibu terdengar lantang. “Kalau kamu lebih memilih
pekerjaanmu daripada Alloh, pergi dari rumah ini… kalau kamu lebih memilih
pergaulan bebasmu daripada aturan Alloh, pergi dari rumah ini…”
“Cuih! Ok!” Rijal mengangguk-angguk dengan tatapan sombong, menusuk
nurani wanita yang telah melahirkannya. “Rijal ‘gak pernah mengharap warisan
atau secuil hartapun dari warisan Bapak. Rijal pergi, Bu.”
Dengan terseok-seok menggelayut pada kesadarannya yang teracuni, ia
menghampiri pintu depan dan membukanya. Sebelum menghilang di balik sosok pintu
kayu yang tampak telah lama di makan usia, Rijal meninggalkan pernyataan
terakhir di hadapan ibunya, “Bu, sebenarnya Rijal sudah lama ‘gak sholat. Rijal
sudah pindah agama sejak dua minggu yang lalu. Agama yang ‘gak pernah nyuruh
umatnya untuk nunggang-nungging di depan Tuhannya sehari lima kali. Ngabisin
waktu. Ngabisin tenaga. Dan sampai hari ini ibu tetap saja menjadi seorang
janda yang miskin!!!” Brak!!! Pintu dibanting, menggetarkan dinding di sekitarnya.
Tak lama terdengar deru sepeda motor yang semakin menjauh. Rijal pergi dari
rumah. Meninggalkan sosok renta bersama serpihan hatinya.
Itulah kejadian setahun yang lalu. Malam ini, Rijal terus berlari dan
berlari. Menara Masjid Al-Fitroh telah tampak dari balik rerimbunan rumah yang
berderet merapat. Curahan hujan menyamarkan cahaya lampu berwana kuning pucat
di puncaknya. “Sedikit lagi… “ ia terus berlari membelah tirai hujan.
Dari balik sekumpulan awan hitam yang menggantung, bulan sabit mengiringi
langkah Rijal demi mencapai tujuannya.
Seribu mimpi
Berjuta sepi
Hadir bagai teman sejati
Di antara lelahnya jiwa
Dalam resah
Dan air mata
Kupersembahkan kepadaMu
Yang terindah dalam hidupku
Gerak larinya melambat ketika sekitar sepuluh meter dihadapannya nampak
siluet tiga sosok yang dikenalnya. Anwar, Henry, Dudi. Ketiganya berdiri kokoh
dibawah terpaan hujan yang mengguyur.
Rijal menghentikan langkahnya. Saat itu, ia baru merasakan ternyata
hantaman hujan cukup membuat kepalanya berdenyut-denyut. Mata nanarnya menatap
wajah ketiga sosok itu. Namun fokusnya kembali menuntun pandangannnya ke arah
menara Masjid Al-Fitroh. Umar ada di sana. Murobinya. Gurunya. Sahabatnya…
“Mau kemana, Jal?” tanya Dudi. Meski tangan kanannya disembunyikan di
balik punggungnya, Rijal dapat menerka benda apa yang tersebunyi di sana.
Rijal mendengus. Tirai hujan ini sedikit menghalangi pandangannya. Tiga
orang ini adalah tukang pukul dari bosnya—Pak Sutoro, sosok gagah, pemilik
delapan perusahaan besar di Jakarta. Ia yang telah menemukannya di Australia,
di tengah-tengah mahasiswa yang kebingungan ke mana harus mencari kerja setelah
lulus. Membawa alasan nasionalisme, Sutoro yang tengah mengurus bisnis di negri
kangguru itu menawarinya sebuah jabatan empuk… yang dengan rela ia tukar dengan
akidahnya.
Tiga hari lalu, sejak pamannya memberitahu berita semakin parahnya
penyakit sang Ibu, Sutoro menduga ada yang tidak beres pada diri Rijal.
Bagaimanapun Rijal yang sempat mengecap tarbiyah melalui Umar, masih
memiliki setitik rasa iba terhadap kondisi wanita yang telah melahirkan dan
membesarkannya. Segala kenangan indah bersama kasih sayang Alloh yang terpancar
melalui sosok Ibunya telah menghancurkan semua kesenangannya dalam atmosfir
duniawi yang diberikan Sutoro. Ia ingin kembali kepada Ibunya.
Menganggap Sutoro adalah orang yang profesional, Rijal menceritakan
perihal penyakit ibunya dan keinginan wanita itu agar Rijal kembali memeluk
Islam. Perdebatan kecil terjadi di ruangan super-lux itu. Sutoro
membelakanginya, memandang jendela dengan wajah masam ketika Rijal menyatakan
pengunduran dirinya—dengan resiko ia kehilangan semua fasiltas yang diberikan
oleh Sutoro berupa rumah, kendaraan, gaji besar dan pangkat.
Hari ini, ketika Rijal membulatkan tekadnya untuk menjumpai sang Ibu dan
memenuhi harapan terakhirnya, kebencian Sutoro membayanginya dalam bentuk tiga
sosok kekar yang siap mencabik-cabiknya.
“Aku bukan lagi karyawan Pak Sutoro,” kata Rijal datar.
“Kau belum jawab pertanyaan Dudi!” bentak Anwar. “Kau mau ke Masjid, ha?”
Rijal tak menjawab. Rahangnya mengeras. Dari mana mereka tahu tujuannya?
“Kalian mau apa? Mencegah aku ke sana? Agama kalian tak akan rugi kehilangan
satu pengikutnya, khan?”
“Kurang aja, kau!!!” senjata itu menampakkan dirinya. Sebatang besi bulat
berdiameter tiga centimeter muncul dari balik punggung Dudi. Dengan gerakan
yang sangat cepat, benda itu membelah hujan dan menghujam ke arah kepala Rijal.
Dengan menyilangkan kedua tangannya, Rijal menangkis serangan itu. Rasa
ngilu yang hebat menjalar hingga ke pangkal lengannya. Trak!!!
“Dasar tak tahu terima kasih!!!” bentak Dudi kesal. Hidung mereka saling
bertemu bersama sorot mata yang menyiratkan satu kondisi yang akan diterima
dari dua pilihan: Membunuh atau terbunuh. “Brengsek kau, Jal!!!”
Duak!!! Kaki kanan Rijal mengayun deras, menghantam perut Dudi dengan
keras. Pria tinggi besar itu terjungkal ke belakang, mengerang kesakitan seraya
memegang purutnya yang terhantam.
Anwar dan Henry tak tinggal diam, mereka mengeluarkan senjatanya.
Masing-masing memegang sebilah samurai. Berlari. Menerjang Rijal yang masih
berdiri dengan tangan kosongnya. Satu dari dua pilihan itu kembali
mengintainya…
Meski kurapuh
Dalam langkah
Kadang tak setia kepadaMu
Namun cinta dalam jiwa
Hanyalah padaMu
Pukul 22.00… hujan masih tak kunjung berhenti. Di dalam Masjid, Umar
masih bercengkrama dengan beberapa ikhwan. Usai sholat Isya tadi mereka sempat
berdiskusi hangat. Wajah mereka cerah, menyiratkan keimanan yang menggelora.
Pemuda berusia dua puluhan itu terlihat lebih dewasa dari teman-teman
seusianya. Cara bicaranya memikat namun tak mengesankan kesombongan.
Kepada laki-laki inilah Rijal sempat ‘berguru’ dan mulai mengerti makna
Islam yang sesungguhnya. Bukan hanya sekedar sholat, puasa atau zakat. Tetapi
Islam adalah sebuah dien yang mengatur seluruh sisi kehidupan manusia.
Seluruhnya…
Kepergiannya dalam rangka menikmati beasiswa pendidikan ke Australia
telah memisahkan Rijal dari sosok Umar. Dirinya ternyata masih lemah, sarat
dengan dahan-dahan kering nan goyah. Rapuh. Keimanannya belum mampu bertahan
menghadapi derasnya terjangan budaya yang sarat dengan nilai-nilai kebebasan
dan tidak mengenal keterikatan pada nilai-nilai akidah yang membuahkan cinta
dari Sang Maha Pencipta.
Tertatih… menyeret kaki kanannya yang penuh luka. Warna merah menjadi
jejak di belakangnya, bercampur dengan air hujan yang menggenangi jalan di
depan Masjid. Bibirnya yang sobek menciptakan sebuah senyuman penuh kemenangan.
Tujuannya tepat ada di depan matanya. Sedikit lagi.
Dengan tangan bergetar, digenggamnya tiang pintu pagar Masjid. Ini adalah
gerbang kembalinya dari kemaksiatan menuju benderangnya cahaya Islam. Kerinduan
itu telah mampu membawanya sampai kesini—dengan sebuah resiko yang paling
dihindari oleh sebagian besar manusia yang terjebak oleh kenikmatan dunia:
Kematian.
Nafasnya memendek. Cairan merah itu sarat mewarnai hampir seluruh
pakaiannya yang masih terguyur hujan. Dengan sisa tenaga, ia berusaha mengunci
jemarinya pada besi bulat itu… namun itu adalah kekuatan terakhirnya.
Kehilangan banyak darah dalam pertempuran tadi membuatnya tak mampu bertahan
lebih lama lagi. Sebelum genggaman jemarinya meluncur turun dari pintu pagar
dan tubuhnya ambruk menghantam aspal jalan yang dingin, sudut bibirnya yang
pecah hanya mampu menyebut satu nama yang sempat hilang dari hidupnya “…
Alloh…”
Maafkanlah bila hati
Tak sempurna mencintaiMu
Dalam dada
Kuharap hanya diriMu yang bertahta
Detik waktu trus berlalu… semua berakhir padaMu
Rapuh; by Opick
15 Feb 2008